Kuliah 120 menit untuk mahasiswa S1 Sistem Informasi
Tikno, ST., M.Kom., MCE.
Sistem Informasi - UISI
Memahami kode yang tidak ditulis sendiri.
Menerapkan minimal empat teknik debugging.
Mengaudit kualitas dengan framework terstruktur.
Mengenali tanda masalah desain lebih dalam.
Memperbaiki output AI yang hampir benar.
Pengetahuan arsitektur web dan Task Manager menjadi bahan untuk membaca ulang kode dari sudut pandang auditor.
Checklist 7 Dimensi dari evaluasi AI kini dipakai untuk menilai bug halus dan anti-pattern.
Skill debugging ini akan dipakai setiap hari saat men-debug React component, rendering, dan API flow.
Kode sendiri beberapa minggu lalu pun dapat terasa asing; itu simulasi membaca kode orang lain.
Menjelaskan blok kode, memberi pendekatan debugging, membuat test case, dan menjelaskan error message yang cryptic.
Men-debug total untuk Anda, menulis ulang seluruh fungsi bermasalah, atau menyelesaikan tantangan manual.
Aturan penting: mahasiswa tetap harus membangun hipotesis, mencoba teknik manual, lalu baru menggunakan AI jika dibutuhkan.
Naik ke menara tinggi dan lihat struktur besar kota lebih dulu.
Jalan kaki per detail dan bangun mental model dari unit kecil.
Ikuti alur aktivitas nyata untuk memahami kota melalui use case.
Tidak ada satu pendekatan terbaik. Engineer profesional berganti strategi sesuai ukuran codebase dan tujuan investigasi.
Mengapa kode ini ada? Masalah apa yang diselesaikan?
Komponen utama dan interaksinya.
Bagaimana algoritma atau fungsi bekerja.
Apa yang tertulis di setiap baris.
Lebih verbose, eksplisit, dan mudah diikuti oleh pembaca baru.
Kelemahan: beberapa bagian terasa terlalu panjang.
Memakai destructuring dan optional chaining agar ringkas tapi tetap jelas.
Kelebihan: informasi utama tetap terbaca cepat.
Diskusikan contoh nyata dari tugas mahasiswa: bagian kode apa yang paling cepat dipahami, dan bagian mana yang terasa paling misterius?
Catat gejala secara konkret.
Duga akar masalah paling masuk akal.
Uji dengan log, breakpoint, atau isolasi kode.
Terima atau tolak hipotesis.
Jika hipotesis salah, kembali ke langkah dua. Iterasi adalah bagian normal dari debugging profesional.
Linear search di 100 baris bisa sangat lambat; bisecting membuat proses investigasi jauh lebih efisien.
Menampilkan array of objects secara tabular dan mudah dibaca.
Mengelompokkan log berdasarkan flow atau use case.
Mengukur durasi operasi untuk indikasi bottleneck.
Hanya menulis pesan saat condition gagal.
Gunakan level log berbeda untuk sinyal yang lebih jelas.
Gunakan console logging strategis untuk verifikasi state pada titik sempit.
Pakai binary search untuk mempersempit codebase lebih cepat.
Rubber duck efektif untuk kasus kode berjalan tetapi hasilnya salah.
Gunakan DevTools karena state browser terlihat real-time.
Pola ini membuat AI membantu reasoning, bukan menggantikan reasoning.
Button tidak merespons click.
Event listener tidak terpasang.
Script dijalankan sebelum DOM ready.
Script di-load di head tanpa defer.
Setelah 5 Whys, mahasiswa tidak hanya tahu fix, tetapi memahami rantai kausalitas di balik bug.
Minta analisis potential issue, bukan solusi final.
Cross-check dengan dokumentasi, log, dan test.
Jelaskan kembali temuan AI dengan kata sendiri.
Implementasikan fix versi Anda sendiri.
Input validation, injection, auth, dan exposure data.
Naming, flow, komentar, dan konsistensi style.
Bottleneck, struktur data, dan kompleksitas.
Bagaimana saat data bertambah 10x atau 100x.
Pemeliharaan / Maintainability adalah dimensi kelima yang memotong semua dimensi lain: seberapa mudah kode ini diubah dengan aman?
Gunakan proyek lama Anda sendiri sebagai laboratorium audit. Kode lama adalah bahan belajar yang sangat jujur.