MINGGU 10 · PERTEMUAN TEORI
09
Mengelola Produksi UMKM dengan Bill of Materials dan Work Orders di Odoo 19
Sistem Informasi Enterprise — ERP Odoo 19.0
dengan Real UMKM Partner Program
3 pertanyaan reflektif — bukan dinilai, tujuannya membangun intuisi sebelum belajar.
Diskusikan jawaban Anda dengan teman sebangku selama 1 menit per pertanyaan.
Tebak Sebelum Belajar: Jelaskan perbedaan antara "make-to-stock" (MTS) dan "make-to-order" (MTO). UMKM mana yang lebih cocok MTS, dan mana yang lebih cocok MTO?
💡 Petunjuk: Pikirkan produk standar (mie instan) vs produk custom (meja ukir Jepara). Siapa yang produksi duluan, baru jual — dan siapa yang jual dulu, baru produksi?
Tebak Sebelum Belajar: Anda memproduksi 1 meja kayu. Bahan: 2 lembar kayu (@Rp 150.000), 20 paku (@Rp 500), 1 liter cat (Rp 50.000), 4 kaki meja (@Rp 25.000). Berapa total biaya bahan baku? Apakah ini sudah cukup untuk tentukan harga jual?
💡 Petunjuk: Total material = Rp 460.000. Tapi berapa biaya tenaga kerja tukang? Berapa listrik dan sewa? Tanpa Labor + Overhead, harga jual Anda bisa merugi tanpa sadar.
Tebak Sebelum Belajar: Apa itu "Bill of Materials" (BOM)? Mengapa BOM penting untuk UMKM manufaktur — apa masalah yang muncul jika BOM tidak terdokumentasi?
💡 Petunjuk: Bayangkan resep masakan yang hanya ada di kepala koki senior. Saat koki sakit, siapa yang tahu takarannya? BOM adalah "resep produksi" yang harus tertulis — bukan di kepala satu orang.
← Dari Bab 4: Produk FG + RM sudah dikonfigurasi dengan route "Manufacture"
← Dari Bab 5: SO trigger MO otomatis (MTO strategy)
← Dari Bab 6: Shortage → auto PO ke supplier
← Dari Bab 7: Stock moves: consume RM → produce FG
← Dari Bab 8: Production cost → COGS otomatis
→ Ke Bab 12: Integrasi end-to-end paling kompleks
9.1
Dari Resep Kertas ke Proses Terintegrasi
💡 Banyak UMKM pakai strategi hybrid — MTS untuk produk fast-moving, MTO untuk custom. Odoo dukung keduanya.
| Tipe | Deskripsi | Contoh UMKM | Odoo Support |
|---|---|---|---|
| Discrete | Item individual yang bisa dihitung | Furniture, garmen, tas | MRP utama ✅ |
| Batch/Process | Produksi dalam batch (volume) | F&B, kosmetik, kimia | Lot tracking ✅ |
| Continuous | Non-stop 24/7 | Jarang di UMKM | Terbatas |
| Tantangan Manual | Solusi Odoo Manufacturing |
|---|---|
| BOM di kertas/Excel terpisah | BOM terintegrasi dengan inventory — availability check otomatis |
| Material shortage saat produksi | MRP scheduler → auto-generate PO untuk kekurangan |
| Biaya produksi tidak akurat | Production costing: materials + labor + overhead |
| Produksi berdasarkan "feeling" | MTO dari SO atau MTS berdasarkan forecast |
| Retur — tidak bisa trace batch | Lot tracking per MO |
📊 68% UMKM manufaktur pernah mengalami material shortage yang menghambat produksi (Kementerian UMKM, 2023) — MRP mengatasi ini.
9.2
Resep Produksi Digital — Single Level, Multi-Level, Phantom
1 produk jadi ← daftar komponen langsung
Contoh: Kain Batik Cap
✅ Cocok: produk sederhana, 1 tahap
Produk jadi ← subassembly ← komponen dasar
Contoh: Meja Makan Ukir
✅ Cocok: produk kompleks, multi-stage
💡 Phantom BOM (Kits): Untuk produk bundle yang tidak diproduksi secara fisik — contoh: "Paket Lebaran" berisi 3 varian batik dalam gift box. Saat dijual, stok tiap varian berkurang otomatis.
BOM Cost = Σ (harga komponen × qty)
Hanya mencakup material. Belum termasuk labor + overhead.
| Komponen | Qty | Harga | Subtotal |
|---|---|---|---|
| Kain Mori Prima | 2.5 m | Rp 35.000/m | Rp 87.500 |
| Lilin Batik | 0.3 kg | Rp 60.000/kg | Rp 18.000 |
| Pewarna Sintetis | 0.5 L | Rp 40.000/L | Rp 20.000 |
| Waterglass | 0.2 L | Rp 25.000/L | Rp 5.000 |
| BOM Cost | Rp 130.500 | ||
⚠️ BOM Cost ≠ Production Cost. Production Cost = BOM Cost + Labor Cost + Overhead. Jangan tetapkan harga jual hanya berdasarkan BOM Cost!
UMKM tanpa BOM "tahu bahwa mereka tidak tahu". UMKM dengan BOM yang salah percaya data yang keliru.
| Gejala | Kemungkinan Penyebab |
|---|---|
| Selalu shortage komponen tertentu | Qty BOM under-estimate (waste tidak dihitung) |
| Selalu overstock komponen | Qty BOM over-estimate |
| Production cost aktual selalu 15%+ di atas standard | Multiple BOM inaccuracies |
| Scrap rate sangat bervariasi antar batch | BOM tidak refleksikan variabilitas bahan baku |
💡 Tip 9.1 — BOM adalah Single Source of Truth. Tetapkan satu orang sebagai BOM Owner. Review setiap 3 bulan. Gunakan BOM Version di Odoo — jangan hapus, buat versi baru.
K2: Sebutkan empat informasi kunci yang harus ada dalam BOM yang lengkap, dan jelaskan dua risiko operasional jika BOM tidak akurat.
A. Nama produk, harga jual, alamat supplier, tanggal dibuat
B. Komponen, kuantitas per unit, UoM, harga beli komponen
C. Nama karyawan, shift kerja, mesin yang digunakan, deadline
D. Biaya listrik, biaya sewa, biaya gaji, biaya marketing
⏱️ Diskusikan 1 menit — jawaban di slide berikutnya.
✅ Jawaban: B — Komponen, kuantitas per unit, UoM, harga beli komponen.
Keempat info ini memungkinkan: (1) availability check otomatis, (2) BOM Cost kalkulasi, (3) auto-PO saat shortage.
2 Risiko BOM Tidak Akurat:
9.3
Operasi Produksi, Labor Cost, Overhead Cost
| Work Center | Labor Rate | Overhead Rate |
|---|---|---|
| Mesin Potong Kayu | Rp 40.000/jam | Rp 20.000/jam |
| Meja Ukiran | Rp 50.000/jam | Rp 10.000/jam |
| Meja Pengamplasan | Rp 35.000/jam | Rp 8.000/jam |
| Finishing & Coating | Rp 35.000/jam | Rp 12.000/jam |
Setiap operasi menghasilkan Work Order otomatis saat MO dikonfirmasi. Operator bisa track waktu via Tablet Mode (Odoo 19).
Production Cost = BOM Cost + Labor Cost + Overhead Cost
| Komponen Biaya | Sumber Data | Contoh (Meja Ukir) |
|---|---|---|
| BOM Cost (Material) | BOM × harga komponen | Rp 450.000 |
| Labor Cost | WC rate × durasi operasi | (3 jam × Rp 40.000) = Rp 120.000 |
| Overhead Cost | WC overhead × durasi | (3 jam × Rp 12.000) = Rp 36.000 |
| Total Production Cost | Rp 606.000 | |
💡 Tip 9.4: Gunakan production cost untuk tentukan harga jual minimum:
Harga Min = Production Cost ÷ (1 − Target GPM)
Contoh: Rp 606.000 ÷ 0.65 = Rp 932.308 (target GPM 35%)
MRP Scheduler = sistem peringatan dini material shortage yang bekerja 24 jam sehari.
Min qty = lead time × konsumsi harian + buffer
Contoh: 5m/hari × 3 hari + 5m = 20m minimum
⚠️ Tip 9.3 — Mulai Bertahap: Fase 1 (BOM saja) → Fase 2 (+Scheduler) → Fase 3 (+Work Centers) → Fase 4 (+Cost Analysis). Jangan setup semua sekaligus!
9.4
Siklus Produksi: Create → Check → Produce → Validate
Manufacturing → Operations → Manufacturing Orders → New
Cocok untuk pesanan ad-hoc atau UMKM sederhana.
Produk di-set route "Manufacture" + "Make to Order" → SO confirmed → MO otomatis.
Cocok untuk custom production.
Reorder Rule aktif + stok di bawah minimum → Scheduler buat MO otomatis.
Cocok untuk MTS dengan demand planning.
⚠️ Shortage terdeteksi? Odoo tampilkan ⚠️ saat Check Availability. Klik "Replenish" → auto-create PO ke supplier.
MO berstatus Done = dokumen akuntansi + inventaris yang sudah terintegrasi. Menghapus akan menyebabkan:
❌ Stok inventaris tidak sinkron dengan jurnal akuntansi
❌ COGS tidak akurat di laporan keuangan
❌ Variance report tidak bisa digenerate
Jika ada kesalahan di MO Done:
MO yang belum validated → boleh Cancel atau edit. Setelah validated → hanya adjustment.
K5: Apa urutan status yang benar dalam siklus Manufacturing Order di Odoo?
A. Draft → In Progress → Confirmed → Check Availability → Done
B. Draft → Confirmed → Check Availability → In Progress → Done
C. Confirmed → Draft → In Progress → Check Availability → Done
D. Draft → Check Availability → Confirmed → Done → In Progress
⏱️ Diskusikan 1 menit — jawaban di slide berikutnya.
✅ Jawaban: B — Draft → Confirmed → Check Availability → In Progress → Done
Ini mengikuti alur logis: buat order → konfirmasi → cek ketersediaan bahan → jalankan produksi → selesai + validasi.
Dampak di setiap tahap:
9.5
Hasil Sampingan, Waste Tracking, dan Pengendalian Kerugian
Produk sampingan yang masih punya nilai ekonomis.
Material/produk rusak, tidak memenuhi standar.
💡 Tip 9.5 — Dokumentasikan Waste Rate sejak hari pertama. Target realistis: Bulan 1 → hanya dokumentasi. Bulan 2–3 → kurangi 20%. Jangka panjang: benchmark garment 5–8%, furniture 8–12%.
9.7
Standard vs Actual Cost — Variance Analysis — Laporan Produksi
Production Variance = Actual Cost − Standard Cost
(+) Unfavorable — biaya lebih tinggi dari rencana | (−) Favorable — lebih efisien dari rencana
⚠️ Variance bukan sekadar angka. Variance > 15% harus diselidiki: apakah BOM salah, material naik harga, atau proses tidak efisien?
| Laporan | Fungsi | Menu Path |
|---|---|---|
| Production Analysis | Volume produksi, durasi, status MO | Manufacturing → Reporting |
| Cost Analysis | Standard vs Actual, variance per MO | Manufacturing → Reporting |
| Work Order Analysis | Efisiensi per Work Center, bottleneck | Manufacturing → Reporting |
| Overall Equipment Effectiveness | Availability × Performance × Quality | Manufacturing → Reporting |
💡 Tip 9.4 — Production Costing untuk Harga Jual: Gunakan data cost analysis untuk evaluasi harga. Sebelum Odoo, harga ditetapkan berdasarkan "perasaan" atau kompetitor. Sekarang, Anda punya data biaya sendiri sebagai basis negosiasi.
K3: Seorang UMKM garment bilang: "Saya tidak perlu membandingkan Standard Cost dan Actual Cost. Yang penting produk terjual dan untung." Setujukah Anda?
A. Setuju — yang penting penjualan lancar
B. Tidak setuju — tanpa variance analysis, margin erosion tidak terdeteksi
C. Setuju — hanya pabrik besar perlu cost analysis
D. Tidak setuju — tapi hanya relevan untuk UMKM retail
⏱️ Diskusikan 1 menit — jawaban di slide berikutnya.
✅ Jawaban: B — Tanpa variance analysis, margin erosion tidak terdeteksi.
3 Konsekuensi tanpa variance analysis:
"Zero Material Shortage dalam 3 Bulan"
Industri
Furnitur Custom
Kayu Jati
Karyawan
15 Tukang Kayu
+ 3 Staf
Omzet
Rp 2,5 Miliar
/tahun
Strategi
80% MTO
20% MTS
💥 Titik Balik: Pesanan Hotel Melia Rp 156 juta nyaris batal — cat salah dibeli karena tidak ada BOM tertulis. Kerugian: Rp 20 juta (rework + diskon + kilat delivery).
| Metrik | Sebelum | Sesudah (3 bln) | Δ |
|---|---|---|---|
| Material shortage/bulan | 4–5 kejadian | 0 | −100% |
| Production downtime | 15–20 jam/bln | <1 jam | −95% |
| Akurasi estimasi biaya | ~75% | 95% | +20pp |
| Waste rate kayu | 18% | 12% | −6pp |
| On-time delivery | 68% | 94% | +26pp |
| BOM terstandarisasi | 0/25 produk | 25/25 | +100% |
| Waktu plan pesanan | 2–3 hari | 30 menit | −95% |
💰 Saving waste: Rp 86,4 juta/tahun · By-product revenue: Rp 1,6 juta/bulan · Gross margin naik dari 22% → 28%
⚠️ Bab ini opsional tergantung tipe UMKM. Jalur A: Manufaktur (full lab). Jalur B: Hybrid (lab ringkas). Jalur C: Retail/Jasa (lab alternatif).
Odoo S.A. (2024). Manufacturing. Odoo 19 Documentation.
Jacobs, F. R., & Chase, R. B. (2023). Operations and Supply Chain Management (16th ed.). McGraw-Hill.
Heizer, J., Render, B., & Munson, C. (2022). Operations Management (13th ed.). Pearson.
Horngren, C. T., Datar, S. M., & Rajan, M. V. (2022). Cost Accounting: A Managerial Emphasis (17th ed.). Pearson.
Kementerian Perindustrian RI. (2023). Peta Jalan Industri Manufaktur Kecil dan Menengah Indonesia 2024–2029.
09
Manufacturing: Mengelola Produksi UMKM dengan
Bill of Materials dan Work Orders di Odoo 19
Sistem Informasi Enterprise — ERP Odoo 19.0
dengan Real UMKM Partner Program